{"id":27995,"date":"2026-07-14T10:26:51","date_gmt":"2026-07-14T03:26:51","guid":{"rendered":"https:\/\/welovesupermom.com\/id\/blog\/?p=27995"},"modified":"2026-07-22T07:08:27","modified_gmt":"2026-07-22T00:08:27","slug":"anak-tantrum-saat-diantar-sekolah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/welovesupermom.com\/id\/blog\/anak-tantrum-saat-diantar-sekolah\/","title":{"rendered":"Anak Tantrum Saat Diantar Sekolah, Ini Penjelasannya"},"content":{"rendered":"<p class=\"font-claude-response-body break-words whitespace-normal\" data-sourcepos=\"23:1-23:294;770-1063\">Baru sampai gerbang sekolah, anak sudah pegangan erat ke tangan Moms sambil nangis kejer. Padahal kemarin sore masih semangat cerita mau main sama teman-temannya. Rasanya berat, ya, Moms. Antara mau buru-buru kerja, tapi hati juga nggak tega ninggalin anak yang masih nangis di gendongan guru.<\/p>\r\n<p class=\"font-claude-response-body break-words whitespace-normal\" data-sourcepos=\"25:1-25:292;1065-1356\">Kalau ini kejadian tiap pagi, Moms nggak sendirian. Tantrum saat <em>drop-off<\/em> atau yang sering disebut <em>separation anxiety<\/em> ini dialami banyak anak usia<em> toddler<\/em> sampai prasekolah. Yuk, kita bahas kenapa ini bisa terjadi, sampai kapan biasanya berlangsung, dan kapan perlu perhatian lebih serius.<\/p>\r\n<p data-sourcepos=\"25:1-25:292;1065-1356\"><img decoding=\"async\" class=\"alignnone size-medium wp-image-28002\" src=\"https:\/\/welovesupermom.com\/id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/ChatGPT-Image-Jul-10-2026-10_42_51-AM-1.png\" alt=\"\" width=\"1\" height=\"1\" \/><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"\" src=\"https:\/\/www.21kschool.com\/kw\/wp-content\/uploads\/sites\/39\/2022\/05\/Dealing-with-temper-tantrums.jpg\" alt=\"How to Deal With Temper Tantrums? - 21K School Kuwait\" width=\"678\" height=\"452\" \/><\/p>\r\n<h2 class=\"text-text-100 mt-3 -mb-1 text-[1.125rem] font-bold\" data-sourcepos=\"27:1-27:52;1358-1409\">Kenapa Anak Tantrum Waktu Mau Berangkat Sekolah?<\/h2>\r\n<p class=\"font-claude-response-body break-words whitespace-normal\" data-sourcepos=\"29:1-29:288;1411-1698\">Buat anak kecil, Moms adalah rasa aman yang paling mereka kenal. Begitu Moms mau pergi, otak mereka membaca situasi ini sebagai sesuatu yang mengancam, bukan sekadar &#8220;ditinggal sebentar&#8221;. Makanya reaksinya bisa sekuat itu, lengkap dengan nangis, teriak, atau memeluk kaki Moms erat-erat.<\/p>\r\n<p class=\"font-claude-response-body break-words whitespace-normal\" data-sourcepos=\"31:1-31:247;1700-1946\">Anak-anak di usia 1 sampai 3 tahun juga belum punya konsep waktu yang matang. Mereka belum paham bahwa &#8220;nanti sore Moms jemput lagi&#8221; itu artinya beberapa jam saja, bukan selamanya. Jadi wajar kalau perpisahan singkat pun terasa berat buat mereka.<\/p>\r\n<blockquote>\r\n<p>Di samping itu, dari sisi psikologi, Helsa, M.Psi., Psikolog yang merupakan salah satu Psikolog dari Amanasa Indonesia menjelaskan bahwa reaksi ini dikenal sebagai <strong><em>separation anxiety<\/em><\/strong>, yaitu kecemasan yang muncul ketika anak harus berpisah dengan figur yang menjadi sumber rasa aman. Pengalaman ini dapat dijelaskan dari sisi psikologi dan perkembangan otak.\u00a0Saat anak merasa akan berpisah dari figur yang menjadi sumber rasa aman, bagian otak yang disebut amigdala akan teraktivasi. Amigdala merupakan bagian otak yang berfungsi untuk mendeteksi ancaman dan memicu respons terhadap ancaman. Reaksi ini mirip dengan \u00a0<em>alarm <\/em>tanda bahaya: jantung anak berdebar lebih cepat, tubuh terasa lebih tegang, sehingga akhirnya termanifestasi dalam bentuk tangisan atau teriakan. Di sisi lain, bagian otak yang berperan dalam mengendalikan emosi dan berpikir logis, yaitu korteks prefrontal<em>, <\/em>belum berkembang matang. Akibatnya, anak belum mampu memahami bahwa perpisahan dengan orang tua hanyalah sementara dan mereka akan bertemu kembali beberapa jam kemudian. Karena itu, pergi ke sekolah dan berpisah dari figur lekat dapat terasa sebagai pengalaman yang sangat menakutkan bagi anak.<\/p>\r\n<p>Penting dipahami bahwa kondisi ini bukan berarti anak manja atau sengaja mencari perhatian. Respons tersebut merupakan reaksi emosional yang wajar pada anak yang masih belajar mengelola rasa cemas dan memahami bahwa perpisahan dengan orang tua hanya bersifat sementara. Seiring bertambahnya usia, serta dengan dukungan dan pendampingan yang konsisten dari orang tua maupun guru, sebagian besar anak akan mampu melewati fase ini dengan baik.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n<h2 class=\"text-text-100 mt-3 -mb-1 text-[1.125rem] font-bold\" data-sourcepos=\"36:1-36:49;2212-2260\">Separation Anxiety Itu Sebenarnya Normal, Kok<\/h2>\r\n<p class=\"font-claude-response-body break-words whitespace-normal\" data-sourcepos=\"38:1-38:314;2262-2575\">Ini bagian yang penting buat Moms pegang: separation anxiety bukan tanda ada yang salah dengan pola asuh Moms. Ini justru tanda anak sudah punya kelekatan (attachment) yang sehat sama Moms. Anak yang merasa aman biasanya akan lebih protes saat berpisah, dibanding anak yang belum punya ikatan emosional yang kuat.<\/p>\r\n<p class=\"font-claude-response-body break-words whitespace-normal\" data-sourcepos=\"40:1-40:280;2577-2856\">Fase ini umum muncul mulai usia 6 sampai 8 bulan, memuncak di usia 1 sampai 2 tahun, lalu berangsur mereda begitu anak masuk usia prasekolah. Tapi setiap anak punya waktunya sendiri, jadi nggak perlu dibanding-bandingkan sama anak lain yang kelihatan lebih santai saat ditinggal.<\/p>\r\n<h2 class=\"text-text-100 mt-3 -mb-1 text-[1.125rem] font-bold\" data-sourcepos=\"42:1-42:59;2858-2916\">Ciri-Ciri Separation Anxiety yang Masih Tergolong Wajar<\/h2>\r\n<p class=\"font-claude-response-body break-words whitespace-normal\" data-sourcepos=\"44:1-44:92;2918-3009\">Supaya Moms nggak khawatir berlebihan, ini beberapa tanda yang masih masuk kategori normal:<\/p>\r\n<ul class=\"[li_&amp;]:mb-0 [li_&amp;]:mt-1 [li_&amp;]:gap-1 [&amp;:not(:last-child)_ul]:pb-1 [&amp;:not(:last-child)_ol]:pb-1 list-disc flex flex-col gap-1 pl-8 mb-3\" data-sourcepos=\"46:1-49:125;3011-3386\">\r\n<li class=\"font-claude-response-body whitespace-normal break-words pl-2\" data-sourcepos=\"46:1-46:101;3011-3111\">Menangis atau rewel hanya di momen perpisahan, lalu mereda dalam beberapa menit setelah Moms pergi<\/li>\r\n<li class=\"font-claude-response-body whitespace-normal break-words pl-2\" data-sourcepos=\"47:1-47:75;3112-3186\">Anak tetap bisa bermain, makan, dan ikut kegiatan sekolah setelah tenang<\/li>\r\n<li class=\"font-claude-response-body whitespace-normal break-words pl-2\" data-sourcepos=\"48:1-48:75;3187-3261\">Reaksinya membaik seiring waktu, bukan makin parah dari minggu ke minggu<\/li>\r\n<li class=\"font-claude-response-body whitespace-normal break-words pl-2\" data-sourcepos=\"49:1-49:125;3262-3386\">Anak tetap ceria dan lengket normal saat di rumah, tidak menunjukkan perubahan perilaku drastis di luar konteks perpisahan<\/li>\r\n<\/ul>\r\n<p class=\"font-claude-response-body break-words whitespace-normal\" data-sourcepos=\"51:1-51:102;3388-3489\">Kalau pola anak Moms mirip seperti ini, besar kemungkinan ini bagian dari proses adaptasi yang wajar.<\/p>\r\n<p data-sourcepos=\"51:1-51:102;3388-3489\"><img decoding=\"async\" class=\"\" src=\"https:\/\/akcdn.detik.net.id\/visual\/2023\/02\/09\/ilustrasi-cara-menghadapi-anak-yang-menangis_169.jpeg?w=720&amp;q=90\" alt=\"5 Cara Menghadapi Anak yang Menangis Terus dalam Berbagai Kondisi\" width=\"679\" height=\"383\" \/><\/p>\r\n<h2 class=\"text-text-100 mt-3 -mb-1 text-[1.125rem] font-bold\" data-sourcepos=\"53:1-53:41;3491-3531\">Tips Menghadapi Tantrum Saat Drop-Off<\/h2>\r\n<p class=\"font-claude-response-body break-words whitespace-normal\" data-sourcepos=\"55:1-55:99;3533-3631\">Beberapa langkah kecil ini bisa membantu drop-off terasa lebih tenang, baik buat anak maupun Moms:<\/p>\r\n<p class=\"font-claude-response-body break-words whitespace-normal\" data-sourcepos=\"57:1-57:169;3633-3801\"><strong>Bikin ritual perpisahan yang singkat dan konsisten.<\/strong> Peluk, satu kalimat pamit, lalu pergi. Perpisahan yang berlarut-larut justru bisa memperpanjang rasa cemas anak.<\/p>\r\n<p class=\"font-claude-response-body break-words whitespace-normal\" data-sourcepos=\"59:1-59:182;3803-3984\"><strong>Selalu pamit, jangan menghilang diam-diam.<\/strong> Rasanya memang lebih gampang kabur pas anak lengah, tapi ini bisa bikin anak makin waspada dan susah percaya di kesempatan berikutnya.<\/p>\r\n<p class=\"font-claude-response-body break-words whitespace-normal\" data-sourcepos=\"61:1-61:182;3986-4167\"><strong>Tepati janji jemput.<\/strong> Kalau bilang jemput jam makan siang, usahakan datang di waktu itu. Konsistensi ini yang perlahan membangun rasa percaya anak bahwa perpisahan itu sementara.<\/p>\r\n<p class=\"font-claude-response-body break-words whitespace-normal\" data-sourcepos=\"63:1-63:167;4169-4335\"><strong>Beri waktu transisi di rumah.<\/strong> Malam sebelumnya, ajak anak cerita soal besok akan ke sekolah, siapa yang akan jemput, dan apa yang akan dilakukan sepulang sekolah.<\/p>\r\n<p class=\"font-claude-response-body break-words whitespace-normal\" data-sourcepos=\"65:1-65:140;4337-4476\"><strong>Titip barang kesayangan.<\/strong> Boneka kecil atau foto keluarga di tas bisa jadi pengingat bahwa Moms tetap dekat meski sedang tidak terlihat.<\/p>\r\n<blockquote>\r\n<p>Helsa menjelaskan bahwa hal yang menjadi kunci penting dalam menghadapi tantrum saat <em>drop-off <\/em>bukanlah menghentikan tangisan anak secepat mungkin, namun membantu anak merasa dipahami sambil tetap melakukan rutinitas perpisahan dengan konsisten. Validasi perasaan anak dengan kalimat sederhana seperti,\u00a0<em>&#8220;Mama tahu kamu masih ingin sama Mama dan kamu sedih harus berpisah.&#8221;<\/em>\u00a0Setelah itu, sampaikan dengan tenang bahwa Moms akan kembali menjemput sesuai waktu yang dijanjikan. Hindari membujuk berlebihan atau berkali-kali kembali memeluk anak setelah berpamitan, karena hal tersebut justru dapat membuat anak berharap perpisahan bisa ditunda.<\/p>\r\n<p>Jika tantrum berlangsung beberapa hari, penting juga bagi orang tua untuk berkomunikasi dengan guru atau pengasuh agar strategi yang digunakan di rumah dan di sekolah tetap konsisten.\u00a0 Orang tua dapat memberi tahu kebiasaan yang biasanya membuat anak lebih tenang, sementara guru dapat menginformasikan kapan anak mulai berhenti menangis, aktivitas apa yang membantu mengalihkan perhatiannya, dan bagaimana ia beradaptasi setelah orang tua pergi.\u00a0 Orang tua dan guru juga dapat menyepakati ritual perpisahan yang sama setiap pagi, menggunakan kalimat penenang yang serupa, serta saling memberi informasi mengenai perkembangan anak setelah orang tua meninggalkan sekolah.Dengan komunikasi yang baik, anak akan menerima respons yang konsisten baik di rumah maupun di sekolah sehingga proses adaptasi biasanya menjadi lebih mudah.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n<h2 class=\"text-text-100 mt-3 -mb-1 text-[1.125rem] font-bold\" data-sourcepos=\"70:1-70:53;4749-4801\">Kapan Perlu Waspada dan Cari Bantuan Profesional?<\/h2>\r\n<p class=\"font-claude-response-body break-words whitespace-normal\" data-sourcepos=\"72:1-72:134;4803-4936\">Sebagian besar tantrum drop-off akan mereda sendiri dalam beberapa minggu. Tapi ada beberapa tanda yang sebaiknya nggak Moms abaikan:<\/p>\r\n<ul class=\"[li_&amp;]:mb-0 [li_&amp;]:mt-1 [li_&amp;]:gap-1 [&amp;:not(:last-child)_ul]:pb-1 [&amp;:not(:last-child)_ol]:pb-1 list-disc flex flex-col gap-1 pl-8 mb-3\" data-sourcepos=\"74:1-78:92;4938-5505\">\r\n<li class=\"font-claude-response-body whitespace-normal break-words pl-2\" data-sourcepos=\"74:1-74:81;4938-5018\">Tantrum tetap intens dan tidak membaik meski sudah berjalan lebih dari sebulan<\/li>\r\n<li class=\"font-claude-response-body whitespace-normal break-words pl-2\" data-sourcepos=\"75:1-75:106;5019-5124\">Anak menunjukkan gejala fisik seperti sakit perut, mual, atau sulit tidur setiap kali menjelang sekolah<\/li>\r\n<li class=\"font-claude-response-body whitespace-normal break-words pl-2\" data-sourcepos=\"76:1-76:121;5125-5245\">Kecemasan meluas ke situasi lain, bukan cuma saat sekolah, misalnya anak jadi takut berpisah dari Moms bahkan di rumah<\/li>\r\n<li class=\"font-claude-response-body whitespace-normal break-words pl-2\" data-sourcepos=\"77:1-77:168;5246-5413\">Anak menunjukkan perubahan perilaku signifikan seperti menarik diri, agresif, atau regresi (misalnya kembali ngompol setelah sebelumnya sudah lancar toilet training)<\/li>\r\n<li class=\"font-claude-response-body whitespace-normal break-words pl-2\" data-sourcepos=\"78:1-78:92;5414-5505\">Ada indikasi sesuatu terjadi di sekolah yang membuat anak takut, bukan sekadar rindu Moms<\/li>\r\n<\/ul>\r\n<p class=\"font-claude-response-body break-words whitespace-normal\" data-sourcepos=\"80:1-80:164;5507-5670\">Kalau salah satu dari ini terjadi, ini saatnya Moms mempertimbangkan bicara dengan psikolog anak untuk memastikan penyebabnya dan mendapat pendampingan yang tepat.<\/p>\r\n<blockquote>\r\n<p>&#8220;Di samping itu, hal yang perlu diperhatikan bukan hanya seberapa keras anak menangis saat diantar ke sekolah, tetapi juga bagaimana kecemasan tersebut dapat memengaruhi keseharian anak. Pada sebagian besar anak, <em>separation anxiety<\/em> merupakan bagian dari proses perkembangan dan akan berangsur membaik seiring anak mendapatkan pengalaman positif saat berpisah dengan orang tua. Namun, apabila kecemasan menetap, semakin intens, atau membuat anak kesulitan menjalani aktivitas sehari-hari, kondisi ini perlu mendapat perhatian dan penanganan lebih.&#8221;<\/p>\r\n<p>Helsa melanjutkan, &#8220;Misalnya, anak tampak terus merasa khawatir meskipun sudah berada di rumah, sulit menikmati waktu bermain, menjadi lebih bergantung pada orang tua dibanding sebelumnya, atau membutuhkan waktu yang sangat lama untuk kembali tenang setelah berpisah. Dalam beberapa kasus, kecemasan juga dapat muncul melalui keluhan fisik seperti sakit perut, mual, kelelahan, atau gangguan tidur, terutama ketika anak mengantisipasi waktu sekolah keesokan harinya. Orang tua juga dapat memperhatikan apakah rasa cemas anak hanya muncul dalam konteks sekolah atau sudah meluas ke berbagai situasi lain. Misalnya, anak mulai sulit ditinggal bersama anggota keluarga lain, menolak aktivitas yang sebelumnya disukai karena takut berpisah, atau terus-menerus membutuhkan kepastian bahwa orang tua akan selalu berada di dekatnya. Jika kecemasan tersebut menetap, mengganggu fungsi sehari-hari anak, atau muncul kekhawatiran bahwa ada pengalaman tertentu yang membuat anak merasa tidak aman, berkonsultasi dengan psikolog anak dapat membantu memahami penyebabnya dan menentukan pendampingan yang sesuai.&#8221;<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n<h2 class=\"text-text-100 mt-3 -mb-1 text-[1.125rem] font-bold\" data-sourcepos=\"85:1-85:25;5898-5922\">Yang Perlu Moms Ingat<\/h2>\r\n<p class=\"font-claude-response-body break-words whitespace-normal\" data-sourcepos=\"87:1-87:339;5924-6262\">Tantrum saat drop-off itu berat buat dijalani, tapi bukan berarti Moms melakukan sesuatu yang salah. Ini bagian dari proses anak belajar bahwa dunia di luar pelukan Moms juga aman untuk dijelajahi. Yang anak butuhkan bukan Moms yang sempurna menghadapi setiap tantrum, tapi Moms yang hadir dan konsisten, sedikit demi sedikit setiap pagi.<\/p>\r\n<p class=\"font-claude-response-body break-words whitespace-normal\" data-sourcepos=\"89:1-89:176;6264-6439\">Kalau rasanya sudah di luar kendali atau Moms butuh pendampingan lebih lanjut, jangan ragu buat cari bantuan profesional. Nggak ada yang salah dengan minta bantuan lebih awal.<\/p>\r\n<p class=\"font-claude-response-body break-words whitespace-normal\" data-sourcepos=\"91:1-91:153;6441-6593\">Moms pernah ngalamin drop-off tantrum yang bikin mewek juga? Share cerita Moms di kolom komentar, siapa tahu bisa saling menguatkan sesama Moms lainnya.<\/p>\r\n<p data-sourcepos=\"91:1-91:153;6441-6593\">Cek juga Tips Survey Sekolah melalui Artikel berikut:<\/p>\r\n<p data-sourcepos=\"91:1-91:153;6441-6593\"><a href=\"https:\/\/welovesupermom.com\/id\/blog\/tips-survey-sekolah\/\">Tips Survey Sekolah: Apa yang Harus Ditanya dan Dilihat Sebelum Mendaftar?<\/a><\/p>\r\n<p data-sourcepos=\"91:1-91:153;6441-6593\">\u00a0<\/p>\r\n<p data-sourcepos=\"91:1-91:153;6441-6593\">\u00a0<\/p>\r\n<p data-sourcepos=\"91:1-91:153;6441-6593\">Artikel ini dibuat berkolaborasi dengan Helsa, M.Psi., Psikolog dari <a href=\"https:\/\/amanasa.id\/\" rel=\"nofollow noopener\" target=\"_blank\">Amanasa Indonesia<\/a>, penyedia layanan psikolog profesional di Indonesia.<\/p>\r\n<p data-sourcepos=\"91:1-91:153;6441-6593\">\u00a0<\/p>\r\n\r\n<div class=\"wp-block-buttons is-content-justification-center is-layout-flex wp-container-core-buttons-is-layout-fe48e5de wp-block-buttons-is-layout-flex\">\r\n<div class=\"wp-block-button\"><a class=\"wp-block-button__link has-white-color has-vivid-purple-background-color has-text-color has-background has-link-color wp-element-button\" href=\"https:\/\/wlsm.cc\/PUUbCk4Z\" rel=\"nofollow noopener\" target=\"_blank\">Gabung Sekarang di WhatsApp Grup Moms Safe Space bersama Supermom &amp; Amanasa<\/a><\/div>\r\n<\/div>\r\n\r\n\r\n\r\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&nbsp;<\/p>\r\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Baru sampai gerbang sekolah, anak sudah pegangan erat ke tangan&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":56,"featured_media":27998,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2194],"tags":[2136,2144],"class_list":["post-27995","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-edukasi-dan-pembelajaran","tag-1-3-tahun","tag-3-6-tahun"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/welovesupermom.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27995","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/welovesupermom.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/welovesupermom.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/welovesupermom.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/56"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/welovesupermom.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=27995"}],"version-history":[{"count":8,"href":"https:\/\/welovesupermom.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27995\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":28011,"href":"https:\/\/welovesupermom.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27995\/revisions\/28011"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/welovesupermom.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/27998"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/welovesupermom.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=27995"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/welovesupermom.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=27995"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/welovesupermom.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=27995"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}