{"id":14526,"date":"2023-01-03T11:32:06","date_gmt":"2023-01-03T04:32:06","guid":{"rendered":"https:\/\/welovesupermom.com\/id\/blog\/?p=14526"},"modified":"2023-01-05T11:30:24","modified_gmt":"2023-01-05T04:30:24","slug":"hipertensi-setelah-melahirkan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/welovesupermom.com\/id\/blog\/hipertensi-setelah-melahirkan\/","title":{"rendered":"Gejala, Penyebab, dan Cara Mengobati Hipertensi Setelah Melahirkan"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hipertensi atau tekanan darah tinggi itu bisa menyerang siapapun, tak terkecuali dengan ibu hamil. Bahkan, tekanan darah tinggi bisa jadi salah satu gejala preeklamsia atau hipertensi setelah melahirkan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tekanan darah tinggi atau hipertensi setelah melahirkan disebut juga dengan postpartum preeklampsia. Kondisi ini terjadi saat tekanan darah tinggi dan kelebihan protein dalam urin <a href=\"https:\/\/welovesupermom.com\/id\/blog\/perawatan-40-hari-setelah-melahirkan\/\">setelah melahirkan<\/a>.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hipertensi setelah melahirkan merupakan kondisi yang jarang terjadi. Namun, kalau Moms mengalami hipertensi setelah melahirkan maka pengobatan medis dibutuhkan segera.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\">Gejala Hipertensi Setelah Melahirkan<\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selama ini banyak yang menganggap kalau hipertensi hanya terjadi di masa kehamilan atau sebelum melahirkan. Kenyataannya enggak demikian Moms. Beberapa Moms bisa saja mengalami hipertensi setelah melahirkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam beberapa kasus, gejala-gejala hipertensi kadang juga dapat berkembang hingga 6 minggu pasca melahirkan. Nah, gejalanya mirip dengan hipertensi pada masa kehamilan, misalnya:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Tekanan darah naik hingga 140\/90 mmHg atau lebih<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Sering sakit kepala hebat<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Pandangan kabur<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Sakit perut pada bagian atas (Di bawah tulang rusuk di sisi kanan)<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Nyeri otot atau persendian<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Cepat lelah<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Pembengkakan pada ekstremitas (bagian wajah dan tubuh\/anggota gerak tubuh) Jantung berdebar<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Berat badan naik drastis<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Jarang buang air kecil<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Keringat dingin atau mual<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perlu diketahui Moms bahwa beberapa gejala yang sudah disebutkan tadi terkadang memang enggak disadari oleh penderita. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk itu, sebaiknya Moms melakukan pemantauan tekanan darah secara berkala ya guna mengetahui ada atau enggak nya tekanan darah tinggi pasca melahirkan.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\">Penyebab Hipertensi Setelah Melahirkan<\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut <\/span><a href=\"https:\/\/www.preeclampsia.org\/postpartum-preeclampsia\" rel=\"nofollow noopener\" target=\"_blank\"><span style=\"font-weight: 400;\">Preeclampsia Foundation<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> sampai saat ini penyebab hipertensi setelah melahirkan belum diketahui secara pasti. Hipertensi mungkin saja dimulai saat hamil, tapi tanda atau gejalanya tidak ditunjukkan hingga bayi lahir.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, risiko terjadinya hipertensi setelah melahirkan meningkat saat Moms mengalami beberapa kondisi seperti:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Memiliki riwayat atau masalah kesehatan seperti penyakit ginjal, tekanan darah tinggi, sindroma antifosfolipid, atau penyakit autoimun (lupus).<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Punya berat badan kurang atau berlebih<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Melahirkan anak kembar dua atau lebih<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Riwayat keluarga dengan preeklamsia atau hipertensi.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Melahirkan diatas usia 35 tahun atau kurang dari 18 tahun<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\"><a href=\"https:\/\/welovesupermom.com\/id\/blog\/tanda-hamil\/\">Hamil muda<\/a> atau hamil pertama kali<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Diabetes tipe 1 atau tipe 2.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Jarak kehamilan yang jauh (10 tahun atau lebih) dari kehamilan sebelumnya.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\">Cara Mengatasi Hipertensi Setelah Melahirkan<\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau Moms baru melahirkan dan merasakan beberapa gejala postpartum preeklampsia, maka biasanya dokter akan meminta Moms berada di rumah sakit dan dilakukan beberapa tes kesehatan. Adapun tes yang akan dilakukan seperti:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Tes darah untuk mengetahui apakah hati dan ginjal berfungsi dengan baik dan memastikan jumlah trombosit\u00a0<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Tes urin untuk melihat apakah urin mengandung protein.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika Moms sudah dipastikan mengalami hipertensi pasca melahirkan, maka dokter biasanya memberikan beberapa obat preeklampsia untuk mengatasinya. Berikut adalah beberapa pengobatan yang mungkin dilakukan:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Obat penurun tekanan darah.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Obat untuk mencegah kejang seperti magnesium sulfat. Biasanya obat ini dikonsumsi selama 24 jam setelah Moms merasakan gejala. Dokter akan memonitor tekanan darah, buang air kecil, dan gejala lainnya setelah obat Moms konsumsi.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Obat antikoagulan (pengencer darah) untuk mengurangi risiko pembekuan darah.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Obat-obatan ini umumnya aman dikonsumsi meski Moms masih menyusui. Untuk lebih memastikannya, Moms bisa bertanya dan konsultasikan ke dokter.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\">Cara Mencegah Hipertensi Setelah Melahirkan<\/span><\/h2>\n<figure id=\"attachment_14533\" aria-describedby=\"caption-attachment-14533\" style=\"width: 731px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\" wp-image-14533\" src=\"https:\/\/welovesupermom.com\/id\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/01\/Cara-Mencegah-Hipertensi-Setelah-Melahirkan.png\" alt=\"Cara Mencegah Hipertensi Setelah Melahirkan\" width=\"731\" height=\"487\" srcset=\"https:\/\/welovesupermom.com\/id\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/01\/Cara-Mencegah-Hipertensi-Setelah-Melahirkan.png 900w, https:\/\/welovesupermom.com\/id\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/01\/Cara-Mencegah-Hipertensi-Setelah-Melahirkan-600x400.png 600w, https:\/\/welovesupermom.com\/id\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/01\/Cara-Mencegah-Hipertensi-Setelah-Melahirkan-768x512.png 768w\" sizes=\"(max-width: 731px) 100vw, 731px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-14533\" class=\"wp-caption-text\">Foto: canva.com<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mengalami hipertensi setelah melahirkan memang bisa membuat Moms stres. Bukan fokus mengurus SI Kecil, Moms justru harus bolak balik ke rumah sakit untuk memulihkan kondisi. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk itu, hipertensi setelah melahirkan perlu dicegah, baik jika Moms memiliki riwayat hipertensi sebelumnya ataupun tidak. Berikut beberapa hal yang bisa Moms lakukan untuk mencegah hipertensi setelah melahirkan:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Memeriksakan tekanan darah secara rutin selama masa kehamilan dan setelah melahirkan.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Menjaga berat badan selama kehamilan.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Memperhatikan asupan makan dengan menerapkan pola makan yang bergizi seimbang, sehingga mineral dan vitamin yang Moms butuhkan selama masa kehamilan bisa terpenuhi.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika tidak ditangani dengan baik, hipertensi setelah melahirkan bisa menyebabkan sejumlah masalah kesehatan seperti penyakit jantung, stroke, kejang, kerusakan organ, bahkan kematian.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk itu, sebaiknya Moms segera periksakan diri ke dokter bila Moms merasakan berbagai gejala hipertensi setelah melahirkan seperti yang sudah disebutkan tadi. Begitu juga jika Moms mengalami beberapa masalah seperti sesak napas, sakit dada, sesak napas, atau masalah penglihatan, bahkan pingsan pasca melahirkan.<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Hipertensi atau tekanan darah tinggi itu bisa menyerang siapapun, tak&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":20,"featured_media":14527,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[30],"tags":[1745],"class_list":["post-14526","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pregnancy","tag-hipertensi-setelah-melahirkan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/welovesupermom.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14526","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/welovesupermom.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/welovesupermom.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/welovesupermom.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/20"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/welovesupermom.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=14526"}],"version-history":[{"count":6,"href":"https:\/\/welovesupermom.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14526\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":14597,"href":"https:\/\/welovesupermom.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14526\/revisions\/14597"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/welovesupermom.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/14527"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/welovesupermom.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=14526"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/welovesupermom.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=14526"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/welovesupermom.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=14526"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}